Stasiun Kampung Bandan: Masalah Akses yang Tidak Bisa Diabaikan
Stasiun Kampung Bandan di Jakarta Utara menjadi salah satu titik kritis dalam sistem transportasi KRL. Pengamat transportasi Deddy Herlambang menyebut bahwa akses di stasiun ini tidak lagi memadai bagi penumpang prioritas, termasuk lansia, ibu hamil, dan pengguna disabilitas.
Tangga Manual yang Menyulitkan
Deddy menjelaskan bahwa seluruh perpindahan antarterminal masih mengandalkan tangga manual yang curam. Ia menyarankan agar ramp panjang dibangun untuk difabel jika memang diperlukan. Namun, faktor-faktor seperti struktur bangunan yang sudah lama dan ruang yang terbatas membuat pembangunan fasilitas baru menjadi tantangan besar.
“Bangunan dan struktur stasiun sudah fixed sejak zaman Hindia-Belanda. Expand sulit, kiri-kanan sudah padat permukiman,” ujar Deddy. Selain itu, regulasi yang ada juga tidak mewajibkan fasilitas seperti lift atau eskalator untuk stasiun lama. Regulasi SPM PM No. 63/2019 hanya mewajibkan fasilitas lengkap bagi stasiun yang dibangun setelah 2019.
Kesulitan Fisik yang Dirasakan Pengguna
Stasiun Kampung Bandan berlokasi di Jl. Mangga Dua VIII No.16, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara. Stasiun ini melayani dua area peron, yakni peron atas dan peron bawah, yang masing-masing mengarah ke rute berbeda. Peron atas hanya bisa diakses melalui satu jalur tangga tinggi tanpa adanya eskalator maupun lift.
Banyak penumpang, terutama lansia dan ibu hamil, mengalami kesulitan saat berpindah jalur. Mereka harus mengandalkan kekuatan fisik sendiri, tanpa adanya fasilitas pendukung.
Pengalaman Langsung dari Pengguna
Bibah (63), seorang lansia yang rutin berangkat dari Stasiun Kampung Bandan, sering berhenti di tengah tangga sambil mengatur napas. “Saya memang sering lewat sini. Dari dulu jalurnya begini terus, harus naik-turun tangga tinggi,” katanya. Anaknya, Fauzi (36), membantu memegangi tubuh Bibah sepanjang menaiki tangga. Fauzi mengaku selalu harus menuntun ibunya karena kondisi tangga yang curam dan licin.
Santo (60), seorang penumpang yang baru turun dari peron atas, juga merasakan kesulitan. “Kalau naik tangga harus hati-hati. Saya ini sudah tua, otot-otot sudah beda,” ujarnya sambil tertawa kecil. Ia sering melihat lansia lain hampir jatuh, meskipun sudah terbiasa dengan kondisi tersebut.
Wilya (29), yang ditemui sedang menggendong anaknya, juga mengeluh tentang tangga yang tinggi. “Capek banget. Tangga tinggi-tinggi. Tadi sempat berhenti di tengah,” ceritanya. Ia mengatakan bahwa eskalator akan sangat membantu, terutama bagi para pengguna yang membawa anak kecil atau barang berat.
Respons dari KAI Commuter
Menanggapi keluhan pengguna, KAI Commuter menyatakan bahwa mereka terus meningkatkan layanan melalui fasilitas yang tersedia. Beberapa fasilitas seperti water station, payment gateway, kartu disabilitas, pin ibu hamil, commuter shelter bike, dan layanan untuk pengguna prioritas telah disediakan.
Namun, Karina Amanda, Vice President Corporate Secretary KAI Commuter, menegaskan bahwa secara ideal setiap stasiun seharusnya menyediakan fasilitas seperti lift, eskalator, dan guiding block. Ia juga menyampaikan bahwa proses pengembangan infrastruktur tidak sepenuhnya berada di tangan KAI Commuter. Koordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan PT KAI diperlukan untuk rencana pembangunan area stasiun.
Kesiapan Penumpang Prioritas
Sementara pembangunan infrastruktur belum selesai, pengguna prioritas dapat meminta bantuan petugas di stasiun saat naik atau turun tangga. Namun, dari lapangan terlihat bahwa risiko jatuh, terpeleset, atau tersandung sangat tinggi, terutama pada jam sibuk dan saat kondisi tangga licin.
Aksesibilitas bukan hanya soal kenyamanan, tetapi keselamatan. Pengguna seperti Bibah, Santo, dan Wilya menunjukkan bahwa akses Stasiun Kampung Bandan bukan lagi sekadar ketidaknyamanan, tetapi hambatan fisik yang mengancam.











