Banjir di Kota Bekasi dan Cirebon pada Malam Natal
Pada malam Natal, lima wilayah di Kota Bekasi dilanda banjir akibat hujan deras dan angin kencang yang mengguyur sejak sore hingga malam. Genangan air mencapai ketinggian bervariasi, mulai dari 30 sentimeter hingga lebih dari satu meter. Pemulihan kondisi mulai terlihat pada Jumat pagi, dengan debit air yang perlahan surut berkat bantuan pompa BPBD.
Warga terdampak mulai membersihkan lumpur dan sisa sampah setelah air surut. Mereka bekerja sama untuk menjaga kebersihan lingkungan dan membantu sesama. Di Perumahan Jatibening Permai Kecamatan Pondok Gede, genangan air yang sempat merendam rumah warga kini telah surut. Warga tampak aktif membersihkan jalan lingkungan, masjid, serta perabot yang basah.
Lima Wilayah Terdampak
Berdasarkan data dari BPBD Kota Bekasi, lima wilayah terkena dampak banjir. Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Bekasi, Idham Khalid, menjelaskan bahwa ketinggian air bervariasi di setiap lokasi. Penanganan dilakukan dengan mengoperasikan pompa di lokasi terdampak. Meski sebagian besar wilayah dalam kondisi terkendali, petugas masih siaga untuk mencegah kemungkinan genangan susulan.
Beberapa titik banjir membutuhkan penanganan khusus. Misalnya, di Perumahan Jatibening Permai, genangan mulai muncul pukul 18.41 WIB dengan tinggi muka air 100 sentimeter. Air meningkat menjadi 130 sentimeter pada pukul 20.07 WIB, namun mulai surut pada pukul 01.57 WIB. Dua unit pompa milik DBMSDA dikerahkan untuk mempercepat penyedotan air.
Di Perumahan Bumi Nasio Indah Kelurahan Jatimekar Kecamatan Jatiasih, ketinggian air berkisar antara 30 hingga 50 sentimeter. Sementara itu, di Jalan Baru Underpass Pasar Baru Kecamatan Bekasi Timur, genangan mencapai 50 hingga 70 sentimeter. Satu unit pompa tetap dan satu pompa mobile dioperasikan hingga pukul 19.46 WIB, sehingga jalur kembali bisa dilalui.
Banjir juga terjadi di Perumahan Duta Indah RW 15 Kelurahan Jatimakmur Kecamatan Pondok Gede, dengan ketinggian air sekitar 50 sentimeter. Genangan tertinggi terjadi di Perumahan Dosen IKIP Kelurahan Jatikramat Kecamatan Jatiasih, dengan ketinggian air mencapai 135 sentimeter. Empat unit mesin pompa dikerahkan untuk menangani lokasi tersebut.
BPBD Kota Bekasi mengimbau warga tetap waspada dan melapor jika kembali terjadi genangan.
Banjir di Cirebon
Peristiwa banjir tidak hanya terjadi di Bekasi, tetapi juga di Cirebon, Jawa Barat. Pada Kamis (25/12/2025) petang, aliran Sungai Pacit tiba-tiba meluap, menyebabkan genangan yang cukup parah. Video yang diunggah oleh warga menunjukkan arus sungai yang deras dan genangan air yang nyaris menyentuh dasar jembatan.
Dalam video berdurasi sekitar 37 detik, terlihat arus sungai mengalir kencang di wilayah Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, tepatnya di sekitar eks kolam renang Basyifa. Perekam video memberikan peringatan dini kepada warga yang tinggal di wilayah hilir, mengingat potensi kiriman air dari hulu yang terus meningkat seiring hujan yang belum sepenuhnya reda.
Kawasan Penyuken, Kota Cirebon, juga kembali terendam banjir. Kondisi ini mirip dengan kejadian dua hari sebelumnya, yaitu pada 23 Desember 2025. Banjir diduga kuat akibat meluapnya Sungai Pacit, yang juga melintasi kawasan Penyuken.
Respons BPBD Kota Cirebon
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon langsung mengerahkan personel untuk menangani peristiwa banjir. Kepala Pelaksana BPBD Kota Cirebon, Andi Wibowo, menyatakan bahwa pihaknya menyiagakan 45 personel internal yang diperkuat relawan, organisasi kemasyarakatan, serta unsur TNI dan Polri. Total personel gabungan yang sudah berada di lapangan sekitar 60 orang dan berpotensi bertambah hingga 150 relawan.
Andi menjelaskan bahwa banjir terjadi di dua titik, yaitu di Kelurahan Kalijaga dan kawasan Penyuken, dengan dampak genangan yang cukup signifikan. Saat puncak kejadian, ketinggian air mencapai sekitar 60 hingga 70 sentimeter. Meski demikian, kondisi di lapangan berangsur kondusif seiring menurunnya intensitas hujan.
Menurut Andi, banjir dipicu oleh intensitas curah hujan yang sangat tinggi, sehingga kapasitas sungai tidak mampu menampung debit air. Luapan tersebut kemudian mengalir ke permukiman warga dan menggenangi sejumlah ruas jalan. Durasi genangan banjir di Kota Cirebon relatif singkat, sekitar dua hingga tiga jam.
Pemerintah daerah bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung juga telah melakukan pemantauan langsung ke lokasi banjir. Hasil pemantauan ini akan menjadi dasar penyusunan skema penanganan untuk menekan dampak banjir di kemudian hari. Selain itu, BPBD mendorong adanya koordinasi lintas wilayah yang melibatkan Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Kuningan. Koordinasi ini difokuskan pada pengelolaan daerah aliran sungai guna mengurangi potensi banjir berulang.











