Kondisi Terkini di Kawasan Gunung Nago, Padang
Hujan yang terus mengguyur sejak Kamis malam telah memicu peningkatan debit air di kawasan Gunung Nago, Kota Padang. Debit air yang semakin tinggi menyebabkan aliran sungai yang sebelumnya dihambat kembali jebol, sehingga air kembali mengalir ke jalan baru yang telah dibangun usai banjir bandang.
Sekitar setengah badan jalan terendam air, namun hingga saat ini belum ada laporan bahwa jalan tersebut terputus. Warga setempat memilih untuk berjaga dan memantau kondisi sungai sejak dini hari, guna mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Peningkatan Debit Air di Jembatan Gunung Nago
Debit air di Jembatan Gunung Nago, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang meningkat setelah hujan turun sejak Kamis (1/1/2025) malam. Hujan yang berlangsung hingga Jumat (2/1/2025) siang membuat debit air bertambah, sehingga aliran sungai yang sebelumnya dihambat kembali jebol.
Pantauan di lapangan sekira pukul 11:58 WIB menunjukkan debit air meningkat di kawasan Jembatan Gunung Nago. Arus sungai sangat deras, bahkan hempasan air cukup kuat, sehingga membentuk embun dari butiran-butiran air.
Aliran air yang kembali mengalir ke bagian jalan yang baru dibangun setelah banjir bandang. Jalan tersebut dibuat menggunakan ekskavator beberapa waktu lalu, namun kini kembali dilalui air, bahkan setengahnya tertutup. Namun, jalan tersebut tidak sampai hancur atau jebol oleh aliran air karena debit air tidak terlalu kuat di bagian limpahannya.
Perasaan Warga Setempat
Salah satu warga Kapalo Koto, Zul Badri, mengatakan hujan sudah mengguyur daerahnya sejak Kamis malam, sekira pukul 20:00 WIB. Ia mengaku cemas saat debit air meningkat akibat hujan lebat sejak kemarin malam. Bahkan ia baru bisa tertidur sekira pukul 03:00 WIB dini hari.
“Saya baru tidur pukul 03:00 WIB, karena cemas dan juga ke tepi sungai memantau debit air,” ujarnya. Menurut Zul, debit air membesar namun tidak sampai ke rumah-rumah warga di Kapalo Koto. Hal itu dikarenakan, sebelumnya alat berat sudah bekerja mengalihkan aliran air sungai.
“Jadi, air tidak sampai ke rumah. Sebelumnya alat berat mengalihkan aliran sungai ke tempat semula,” katanya. “Namun limpahan air masih dekat dengan rumah, cuma tidak besar.”
Pantauan hingga pukul 13:51 WIB menunjukkan bahwa Zul masih berada di belakang rumahnya untuk memantau kondisi debit air. Bagian belakang rumahnya terlihat bolong akibat sempat terdampak saat banjir bandang akhir November 2025 lalu.
Jalan Kapalo Koto Putus
Jalan beraspal sesudah Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 44, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang putus akibat hujan deras sejak Kamis (1/1/2026) malam. Hujan diketahui sudah berlangsung sejak pukul 19:30 WIB hingga Jumat (2/1/2025) siang.
Berdasarkan keterangan Ketua Karang Taruna Kapalo Koto, Muhammad Ilham, putusnya jalan sesudah SMPN 44 Padang disebabkan karena hujan deras. “Hujan terjadi sejak kemarin malam, sekira pukul 19:30 WIB, membuat debit air naik dan bahkan melimpah ke badan jalan,” ungkapnya saat dikonfirmasi via telepon WhatsApp, Jumat (2/1/2025).
Kata Ilham, pasca hujan turun, satu jam setengah setelahnya membuat debit air sungai naik. “Debit air mulai naik sekitar jam 21:00 WIB, lalu pada pukul 23:30 WIB, air sudah mulai melimpah ke badan jalan, sebelum jembatan di kawasan Batu Busuak,” ujarnya.
Barulah puncaknya terjadi pada pukul 00:30 WIB, membuat jalan sesudah SMPN 44 putus akibat terkikis oleh debit air yang membesar. “Puncaknya jam 00:30 WIB, air besar, menembak atau masuk ke dalam SMPN 44 Padang,” pungkasnya.
Tindakan Pengamanan bagi Warga
Untuk ukuran jalan yang putus sesudah SMPN 44 Padang, kurang lebih 50 meter. “Sekitar 50 meter jalan putus, data ukuran putusnya jalan dini hari tadi, kalau pagi itu entah bertambah atau bagaimana, kemungkinan bertambah,” tuturnya.
Di sisi lain, warga yang berada di huntara Koto Tuo, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang diminta bertahan di lokasi. Sedangkan di seberang jembatan, memasuki kawasan Batu Busuak, diarahkan ke Rimbo Panjang dan tidak usah keluar dari pengungsian.
“Kalau yang di huntara saya minta bertahan di sana, kalau yang sesudah jembatan, saya minta bertahan di pengungsian Rimbo Panang,” kata Ilham. “Bahkan saat kejadian malam, lampu padam, tidak keseluruhan, hampir setengah.”
Ia menambahkan, untuk kondisi warga yang berada di Kapalo Koto dan kawasan Batu Busuak, sekarang terisolasi. “Untuk warga sekarang terisolasi, namun kendaraan roda dua masih bisa dipaksakan untuk lewat, melalui pinggir jalan,” tambahnya.











