"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Daerah  

Panti Asuhan Brayat: 90 Tahun Bina Anak Terlantar Seluruh Indonesia

Sejarah Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji yang Berusia 90 Tahun

Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji di Padukuhan Boro, Kalurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo adalah salah satu tempat yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Meski terlihat sederhana, bangunan ini memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam melayani anak-anak yang membutuhkan perlindungan dan pendidikan.

Panti Asuhan ini berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1934. Hal ini membuat usia panti asuhan ini mencapai 90 tahun pada tahun 2026. Menurut Suster Maria Christera, pimpinan panti asuhan tersebut, awalnya panti ini didirikan untuk melengkapi layanan Rumah Sakit Santo Yusuf Boro yang telah beroperasi lebih dulu.

Awal Mula Didirikannya Panti Asuhan

Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji digagas oleh Romo J.B. Prennthaler, S.J., seorang misionaris Katolik. Tujuan utamanya adalah membantu warga Menoreh yang menghadapi berbagai tantangan, seperti masalah ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Saat itu, banyak ibu yang meninggal dunia akibat persalinan, serta banyak keluarga yang terkena wabah penyakit hingga anak-anak menjadi telantar.

Dengan situasi tersebut, panti asuhan dibuka sebagai tempat untuk mengumpulkan dan merawat anak-anak yang tidak memiliki keluarga yang dapat menangani mereka. Selain untuk putri, panti asuhan juga menyediakan fasilitas untuk putra, meskipun lokasinya tidak terlalu jauh dari panti asuhan putri.

Layanan dan Peran Panti Asuhan

Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji kini dikelola oleh Kongregasi Suster Ordo Santo Fransiskus (OSF) yang berpusat di Semarang, Jawa Tengah. Seluruh anak yang tinggal di panti ini dijamin hak kehidupan dan pendidikannya. Misinya adalah mengentaskan kemiskinan dari anak-anak yatim, piatu, atau yang telantar akibat masalah ekonomi dan keluarga.

Banyak anak yang pernah tinggal di panti ini berhasil menempuh pendidikan tinggi dan kembali ke daerah asalnya untuk membuka usaha sendiri. Salah satu contohnya adalah Pangkrasia Tamboy Tikporop, yang kini sedang menempuh studi perguruan tinggi di Jawa Barat. Ia pernah tinggal di panti asuhan ini selama beberapa tahun dan merasa mendapat kasih sayang serta pendidikan yang baik.

Pengalaman Anak di Panti Asuhan

Pangki, panggilan akrabnya, berasal dari Sorong, Papua Barat Daya. Ia ingin bersekolah namun terkendala biaya. Keberadaan Biara Suster OSF di Sorong membuatnya bisa tinggal di asrama suster dan akhirnya dititipkan ke Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji.

Selama tinggal di panti asuhan, ia merasa diperlakukan dengan baik oleh para suster dan pegawai. Ia juga mendapat pendidikan tentang kedisiplinan yang sangat berpengaruh dalam hidupnya. Meskipun berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi, ia tidak pernah merasa kekurangan.

Harapan untuk Masa Depan

Pangki berharap panti asuhan ini tetap eksis dalam memberikan pelayanan tulus kepada anak-anak yang membutuhkan kasih sayang. Ia mengungkapkan bahwa panti asuhan ini menjadi tempat yang sangat berarti bagi dirinya dan banyak anak lainnya.

Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi rumah bagi banyak anak yang ingin meraih masa depan yang lebih baik. Dengan dukungan dari berbagai organisasi masyarakat dan pejabat pemerintah, panti asuhan ini terus berupaya memberikan layanan terbaik bagi masyarakat.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *