"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Daerah  

Petani Pidie Kesulitan Akses Pupuk Subsidi

Kekurangan Pupuk Bersubsidi Mengganggu Petani di Kabupaten Pidie

Petani di Kecamatan Mutiara dan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie mengalami kesulitan dalam memperoleh pupuk bersubsidi. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan stok pupuk yang tersedia di pasar, terutama jenis Phonska (NPK) serta urea. Pupuk tersebut sangat dibutuhkan oleh petani untuk menyuburkan tanaman padi yang berusia antara 22 hingga 30 hari.

Kesulitan Mendapatkan Pupuk Subsidi

Ibrahim, seorang petani di Kecamatan Mutiara, menjelaskan bahwa saat ini, kebutuhan akan pupuk sangat tinggi. Namun, ketersediaan pupuk di kios pengecer masih sangat terbatas. Menurutnya, stok pupuk sering kosong akibat kelangkaan yang terjadi. Dari hasil pengamatan di kios pengecer, penyaluran pupuk tidak mencapai target yang ditetapkan. Seharusnya, kios pengecer menerima 25 ton pupuk, tetapi hanya diberikan sekitar 80 sak.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpang) Pidie, Hasballah SP, menjelaskan bahwa pupuk bersubsidi Phonska atau NPK dan urea mengalami kelangkaan sejak sepekan terakhir ini. Ia juga menyampaikan bahwa petani melaporkan masalah ini ke dinas. Menurutnya, kelangkaan pupuk disebabkan oleh kurangnya penyaluran dari distributor kepada kios pengecer. Selain itu, permintaan pupuk meningkat tajam karena tanaman padi sedang dalam masa pertumbuhan yang membutuhkan nutrisi tambahan.

Hasballah juga telah melapor ke Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat berkunjung ke Aceh, tentang ketidakcukupan pasokan pupuk bersubsidi di Pidie. Selain itu, Distanpang juga sudah menyurati PT Pupuk Indonesia pada awal Januari 2026, agar segera menambah kuota pupuk bersubsidi untuk petani di Pidie.

Pendistribusian Pupuk Melalui Jalur Laut

Direktur CV Alia Agro Persada, Jamaluddin, menjelaskan bahwa sebenarnya stok pupuk di Pidie tidak langka. Namun, Aceh dilanda musibah banjir dan longsor pada 26 November 2025, yang menyebabkan jembatan utama sebagai penghubung putus. Akibatnya, jalur pendistribusian pupuk melalui jalur darat terkendala.

Untuk mengatasi hal ini, Pupuk Indonesia tetap berkomitmen untuk melakukan pendistribusian pupuk bersubsidi di wilayah Kabupaten Pidie. Pada pekan ketiga hingga keempat Desember 2025, pendistribusian pupuk dilakukan melalui jalur laut menggunakan kapal. Kapal membawa 900 ton urea dan 800 ton NPK mendarat di pelabuhan Malahayati. Pupuk kemudian dibawa ke gudang lini III Pidie, guna PUD melakukan penebusan dan mensistribusikan ke PPTS.

Pada pekan pertama Januari 2026 hingga saat ini, pendistribusian pupuk sudah mulai normal lewat jalur darat, meski di jembatan Kutablang Bireuen tetap harus antrean. Sampai 14 Januari 2026, stok pupuk subsidi di gudang lini III Kabupaten Pidie mencapai 180 ton urea. Saat ini, 180 ton urea dalam perjalanan dibawa truk. Begitu juga, 120 ton NPK bersama 150 ton urea masih diangkut truk dalam perjalanan.

Kejelasan Stok Pupuk di Wilayah Kerja Kecamatan Peukan Baro

Selain itu, PUD CV Tuah Tamita sudah melakukan penebusan di wilayah kerja Kecamatan Peukan Baro terhadap 65 ton pupuk urea dan 57,5 ton NPK. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada kendala dalam distribusi, upaya penyaluran pupuk tetap dilakukan secara bertahap.

Kecamatan yang Tidak Membutuhkan Pupuk

Menurut Hasballah, hampir semua kecamatan memerlukan pupuk karena tanaman padi butuh pupuk. Namun, terdapat beberapa kecamatan yang tidak memerlukan pupuk, yaitu Kecamatan Glumpang Baro, Glumpang Tiga, dan Keumala. Petani di daerah tersebut lebih awal telah memakai pupuk.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *