"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Daerah  

Hanya 6,05 Persen Rumah Tangga di Kaltim Gunakan Atap Genteng, Ini 5 Wilayah Terbanyak

Peran Atap dalam Kualitas Hunian di Kalimantan Timur

Penggunaan bahan atap rumah bukan sekadar soal pilihan material bangunan, tetapi juga mencerminkan kualitas hunian, tingkat kenyamanan, hingga daya tahan sebuah rumah terhadap cuaca dan perubahan iklim. Di daerah beriklim tropis seperti Kalimantan Timur, atap memegang peran penting dalam menjaga suhu ruangan tetap sejuk sekaligus melindungi penghuni dari panas matahari dan curah hujan tinggi.

Namun, data terbaru menunjukkan bahwa mayoritas rumah tangga di provinsi ini masih bergantung pada material ringan yang memiliki banyak keterbatasan dari sisi kenyamanan dan ketahanan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, terlihat jelas bahwa pola penggunaan bahan atap rumah di Kalimantan Timur masih didominasi oleh seng, kayu, dan sirap. Ketiga material ini mencapai 89,65 persen dari total rumah tangga di provinsi tersebut. Artinya, hampir sembilan dari sepuluh rumah di Kalimantan Timur masih menggunakan atap berbahan ringan dan sederhana.

Sementara itu, penggunaan genteng—yang sering diasosiasikan dengan hunian lebih permanen, sejuk, dan tahan lama—baru menyentuh angka 6,05 persen secara rata-rata provinsi. Angka ini menunjukkan kesenjangan besar antara kualitas hunian ideal dengan realitas di lapangan. Genteng, baik yang terbuat dari tanah liat maupun beton, dikenal lebih mampu meredam panas, tidak menimbulkan suara bising saat hujan, dan memiliki daya tahan lebih lama dibanding seng. Namun, karena bobotnya yang lebih berat, genteng membutuhkan rangka atap yang lebih kuat dan biaya pemasangan yang relatif lebih tinggi. Faktor inilah yang membuat banyak masyarakat, terutama di wilayah pedesaan dan kawasan dengan akses material terbatas, masih memilih seng, kayu, dan sirap.

Kelebihan dan Kekurangan Bahan Atap

Seng sendiri adalah lembaran logam tipis yang ringan, murah, dan mudah dipasang. Namun, material ini memiliki kelemahan utama, yakni menghantarkan panas sehingga membuat ruangan terasa gerah, serta menimbulkan suara keras saat hujan. Kayu dan sirap—yang merupakan potongan kayu pipih sebagai penutup atap—lebih sejuk, tetapi rentan lapuk, mudah diserang rayap, dan memiliki risiko kebakaran yang lebih tinggi. Dengan dominasi material tersebut, kualitas kenyamanan termal (kemampuan rumah menjaga suhu tetap nyaman) di banyak wilayah Kalimantan Timur masih menjadi tantangan.

Genteng sering dipandang sebagai simbol hunian yang lebih permanen dan berkualitas. Material ini tidak hanya lebih awet, tetapi juga membantu menjaga suhu ruangan tetap stabil. Di wilayah perkotaan dan daerah dengan pertumbuhan ekonomi lebih baik, penggunaan genteng mulai meningkat sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas tempat tinggal. Rumah dengan atap genteng biasanya memiliki struktur bangunan yang lebih kuat dan desain yang lebih tertata.

Daerah dengan Penggunaan Genteng Terbanyak

Meski secara keseluruhan masih rendah, data BPS mencatat adanya konsentrasi penggunaan genteng di beberapa daerah tertentu di Kalimantan Timur. Wilayah-wilayah ini menunjukkan kecenderungan masyarakat yang mulai beralih ke material yang lebih tahan lama dan nyaman. Berikut 5 daerah Kaltim dengan persentase penggunaan genteng tertinggi:

  1. Kota Samarinda – 10,80 persen
  2. Kota Balikpapan – 7,06 persen
  3. Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) – 6,86 persen
  4. Kabupaten Mahakam Ulu – 5,88 persen
  5. Kabupaten Kutai Timur – 5,10 persen

Kota Samarinda berada di posisi teratas. Sebagai ibu kota provinsi dan pusat pemerintahan serta ekonomi, Samarinda menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk membangun rumah dengan material yang lebih permanen. Balikpapan, yang dikenal sebagai pusat industri dan jasa, menempati posisi kedua dengan kualitas hunian yang relatif lebih baik. Penajam Paser Utara berada di urutan ketiga, seiring perannya sebagai kawasan strategis penyangga ibu kota negara. Mahakam Ulu, meskipun tergolong daerah terpencil, justru menempati peringkat keempat. Ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas hunian di tengah keterbatasan akses. Sementara itu, Kutai Timur di posisi kelima memperlihatkan dampak aktivitas industri dan pertambangan terhadap pola pembangunan rumah masyarakat.

Perbandingan dengan Bahan Atap Lain

Selain seng, kayu, sirap, dan genteng, BPS juga mencatat penggunaan bahan lain seperti beton, asbes, serta bambu, jerami, dan daun rumbia. Beton biasanya digunakan sebagai atap datar atau dak pada bangunan bertingkat. Asbes merupakan bahan serat mineral yang tahan panas, namun kini mulai ditinggalkan karena dianggap berisiko bagi kesehatan. Adapun bambu, jerami, dan daun rumbia umumnya digunakan pada rumah tradisional atau hunian sementara. Meski demikian, persentase penggunaan bahan-bahan ini sangat kecil dibanding dominasi seng, kayu, dan sirap.

Proyek Gentengisasi Prabowo

Fenomena rendahnya penggunaan genteng ini menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Ia meluncurkan gagasan “gentengisasi”, sebuah gerakan nasional untuk mengganti atap seng dengan genteng. Gagasan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornasi) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026). “Salah satu dalam rangka indah, saya lihat Surabaya, semua kota, semua kecamatan, hampir semua desa kita, sekarang maaf ya, terlalu banyak genteng dari seng. Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat,” ujar Prabowo. Ia menambahkan bahwa dominasi atap seng membuat lingkungan permukiman kehilangan nilai estetika. “Tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng,” katanya.

Menurut Presiden, gentengisasi bukan hanya soal keindahan, tetapi juga kenyamanan hunian dan citra bangsa. Ia menargetkan dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Indonesia tidak lagi terlihat “berkarat”. Dalam konsep ini, genteng akan menjadi material utama atap bangunan di seluruh wilayah Indonesia. Program ini dirancang sebagai gerakan masif yang melibatkan pemerintah daerah, koperasi, dan masyarakat. “Alat-alat pabrik genteng itu tidak mahal, jadi nanti koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng,” ujar Prabowo. Ia juga menyebut bahwa genteng berbasis tanah dapat dikombinasikan dengan material limbah agar lebih ringan dan kuat, termasuk limbah batu bara.

Hunian Nyaman, Tradisi, dan Pariwisata

Prabowo menilai bahwa rumah-rumah tradisional Indonesia lebih sejuk karena menggunakan material alami. “Kalau kita ingat nenek kita, kakek kita, atasnya itu dulu pakai rumbia atau pakai ijuk atau pakai sirap. Atau pakai bahan-bahan dari alam, jadi sejuk,” katanya. Ia juga mengaitkan gentengisasi dengan pariwisata. “Turis dari luar, untuk apa dia datang melihat seng berkarat? Karat itu lambang degenerasi,” ujarnya. Dengan demikian, gerakan gentengisasi diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas hunian, tetapi juga mempercantik wajah Indonesia di mata dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *