"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Daerah  

Air Mata Eli Menabung Belasan Tahun, Rumah Baru Hilang dalam Sekejap

Kehilangan Rumah dalam Semalam

Eli Hermita (56) menghadapi kenyataan pahit setelah bencana longsor yang terjadi di Padang Pariaman membuat rumahnya hilang dalam semalam. Rumah tersebut dibangun dari hasil menabung belasan tahun bekerja, dan kini Eli tinggal di rumah sementara yang dibangun oleh pemerintah untuk korban banjir dan longsor.

Keinginan yang Harus Berubah

Tahun yang seharusnya menjadi momen bersejarah bagi Eli dan suaminya, karena tabungan mereka untuk membangun rumah sudah mulai penuh. Rumah impian yang mereka bangun pada 2026 ini seharusnya menjadi pencapaian terbaru mereka. Namun, takdir berkata lain. Segala sesuatu lenyap hanya dalam semalam.

Sungai Batang Anai menjadi penyebab utama kehilangan rumah impian Eli. Bencana hidrometeorologi yang menghantam Padang Pariaman pada November 2025 lalu menjadi momen kelam bagi harapan Eli. Erosi sungai yang ganas meluluhlantakkan bangunan sederhana di Kampung Cino, Talao Mundan, Kecamatan Batang Anai. Bangunan yang ia rintis dengan peluh dan harapan selama bertahun-tahun lamanya itu akhirnya habis.

“Semuanya habis. Yang tersisa hanya baju di badan dan kendaraan. Sisanya, masuk ke dasar sungai,” kenang Eli dengan suara serak saat ditemui di hunian sementara (huntara), Selasa (17/2/2026).

Tidak Ada Puing yang Tersisa

Tidak ada puing yang tersisa. Rumah itu hilang sepenuhnya, seolah-olah tidak pernah berdiri di sana. Bersama suami, dua anak, dan seorang cucunya, Eli terpaksa menelan kenyataan pahit sebagai tunawisma.

Kenangan akan Rumah

Setelah berbulan-bulan bertahan di bawah terpal tenda darurat yang sesak dan panas, Eli kini sedikit bernapas lega setelah pihak pemerintah meresmikan huntara sebagai tempat bernaung sementara. Meski begitu, tinggal di bilik berukuran 4 x 4 meter untuk lima jiwa bukanlah perkara mudah. Di ruangan sempit itulah, air mata Eli sering jatuh dengan sendiri.

Dia berujar, sudah tiga minggu terakhir sejak ia dan keluarga menempati huntara, kenangan soal rumah, lingkungan sosial, dan sekaligus tempat suaminya mencari nafkah terus terngiang. Meski di huntara kondisinya jauh lebih layak dibanding tenda pengungsian yang harus berbagi dengan puluhan jiwa, tinggal di rumah sendiri bersama dengan komunitas adat yang telah terjalin bertahun-tahun tetaplah harapan terindah.

Dilema Jarak dan Perut

Meski telah mencoba mengikhlaskan apa yang telah hilang, masalah baru muncul. Letak huntara yang aman dari sungai justru jauh dari ladang ekonomi. Suami Eli, yang bekerja sebagai buruh serabutan, harus menempuh perjalanan lebih dari 30 menit untuk mencapai lokasi kerja lamanya.

“Jaraknya jauh, butuh biaya bensin lebih. Kadang suami terpaksa pulang dua hari sekali untuk menghemat ongkos,” tutur Eli sambil menyeka sudut matanya.

Di usia senjanya, Eli tidak meminta kemewahan. Ia hanya merindukan rasa aman yang dulu ia bangun dengan kesabaran. Harapan utamanya saat ini hanyalah memiliki rumah sendiri yang permanen. Meski sederhana, baginya di sana dirinya bersama keluarga akan menata kembali kepingan mimpi yang hanyut dibawa arus sungai.

Tips Mencari Lokasi Rumah yang Aman

Tinggal di rumah yang berbatasan langsung dengan bibir sungai memiliki sejumlah bahaya serius yang wajib dipertimbangkan sejak awal karena menyangkut keselamatan jiwa, aset, dan kesehatan jangka panjang. Risiko paling utama adalah banjir, baik banjir musiman maupun banjir bandang yang dapat terjadi tiba-tiba akibat hujan lebat di hulu sungai, jebolnya tanggul, atau kiriman air besar dari wilayah lain.

Kasus yang sudah nyata terjadi adalah rumah impian Eli yang lenyap hanya dalam semalam. Rumah di bibir sungai juga rawan erosi dan longsor tanah, karena aliran air yang terus-menerus dapat menggerus pondasi dan menyebabkan pergeseran tanah secara perlahan hingga bangunan menjadi retak, miring, atau bahkan roboh.

Selain itu, kawasan sungai sering menjadi jalur limpasan limbah, sehingga penghuni berisiko terpapar pencemaran air, bau tidak sedap, serta penyakit seperti diare, leptospirosis, dan penyakit kulit, terutama saat musim hujan dan banjir.

Jika ingin mencari rumah dengan lahan yang baik dan aman, langkah pertama adalah memastikan lokasi berada jauh dari sempadan sungai resmi. Minimal sesuai ketentuan tata ruang daerah setempat, serta berada di elevasi yang lebih tinggi dibandingkan saluran air di sekitarnya. Perhatikan riwayat banjir dengan bertanya kepada warga lama atau aparat setempat, bukan hanya mengandalkan tampilan rumah saat musim kemarau.

Pilih tanah dengan struktur padat dan stabil, bukan tanah urukan baru yang rawan ambles, serta pastikan sistem drainase lingkungan berfungsi baik dan tidak menjadi titik kumpul air. Akses jalan yang memadai, penerangan cukup, dan jarak aman dari jalur air besar atau tebing curam juga merupakan indikator penting kualitas lahan.

Secara keseluruhan, meskipun rumah di dekat sungai kerap ditawarkan dengan harga lebih murah atau pemandangan yang menarik, keputusan untuk tinggal di sana harus diambil dengan pertimbangan matang dan rasional. Keselamatan, kesehatan, kepastian hukum, dan keberlanjutan hunian jauh lebih penting daripada harga atau lokasi semata. Memilih lahan yang aman sejak awal adalah bentuk investasi jangka panjang yang melindungi penghuni dari risiko bencana dan kerugian besar di kemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *