Warga Sei Binti Batam Ambil Tindakan Sendiri Atasi Banjir yang Berulang
Warga di Kampung Tua Sei Aleng, Kelurahan Sei Binti, Kecamatan Sagulung, Kota Batam, Provinsi Kepri, mengalami kesulitan akibat banjir yang terjadi secara berulang. Masalah ini sudah lama menjadi isu yang tidak kunjung selesai, bahkan hingga kini belum ada solusi nyata dari pemerintah atau pihak terkait. Akibatnya, warga terpaksa mengambil inisiatif sendiri untuk mengatasi masalah tersebut.
Tindakan Swadaya Warga
Beberapa waktu lalu, warga Kampung Tua Sei Aleng memutuskan untuk membongkar gorong-gorong yang menjadi penyebab banjir di wilayah mereka. Mereka meminta bantuan alat berat milik perusahaan di sekitar lokasi untuk melakukan pembongkaran. Tiga gorong-gorong yang menjadi sumber masalah berada di jalan masuk menuju Kantor Kementerian Kesehatan dan PT Lois & Tiger Trans.
Meskipun beberapa kali BP Batam dan Pemko Batam melakukan peninjauan, hingga kini belum ada tindakan nyata yang dilakukan. Anggota DPRD Batam dari Komisi III juga pernah datang ke lokasi, namun hanya memberikan janji-janji yang tidak diwujudkan.
Banjir yang Terus Mengancam
Pada Kamis (19/2/2026), hujan deras kembali mengguyur Batam, menyebabkan Kampung Tua Sei Binti kembali terendam banjir. Banjir yang mulai terjadi sejak sore hari semakin parah hingga malam, dengan air mencapai ketinggian 50 sentimeter. Kekecewaan warga semakin memuncak pada Jumat (20/2/2026) sekitar pukul 01.00 WIB ketika air tidak kunjung surut.
Berdasarkan pengamatan warga, air yang tidak kunjung surut ditambah hujan yang terus menerus membuat mereka memutuskan untuk bertindak. Mereka mendatangi lokasi gorong-gorong yang menjadi sumber banjir di jalan masuk Kantor Kementerian Kesehatan dan PT Lois & Tiger Trans.
Pembongkaran Gorong-Gorong
Tokoh masyarakat Sei Aleng, Rahman (Aji), menjelaskan bahwa warga meminta bantuan alat berat dari perusahaan setempat untuk membuka gorong-gorong yang tersumbat. “Pada pukul 01.00 WIB, kami berhasil membongkar jalan masuk ke perusahaan. Sekarang tinggal satu gorong-gorong lagi di depan Kantor Kementerian Kesehatan yang belum dibongkar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa gorong-gorong di depan kantor tersebut sulit dibongkar karena konstruksi coran jalan yang sangat kuat. Namun, jika banjir kembali melanda, warga bersiap untuk membongkar gorong-gorong tersebut sepenuhnya.
Kekesalan Warga
Kekesalan warga semakin besar karena janji-janji pemerintah yang tidak diwujudkan. Aji mengatakan, banjir sudah masuk ke dalam rumah dan menggenangi hingga ketinggian lutut orang dewasa. Setelah pembongkaran dilakukan pada Jumat sekitar pukul 05.00 WIB, air banjir di komplek tersebut akhirnya surut total.
“Jika gorong-gorong tidak kami bongkar, mungkin hari ini air masih belum surut,” kata Aji.
Ancaman Listrik dan Keselamatan
Syamsul, Ketua RT 02 Sei Binti, mengungkapkan bahwa warga sangat khawatir dengan ancaman listrik yang terendam air. “Yang paling kami khawatirkan adalah aliran listrik. Bagaimana jika ada korban jiwa akibat banjir yang terus terjadi ini?” ujarnya.
Menurut Syamsul, salah satu penyebab banjir adalah hilangnya daerah resapan air di sekitar wilayah tersebut. Semula masih ada rawa-rawa yang berfungsi sebagai tempat penyerapan air, tetapi kini semuanya sudah ditimbun.
Peringatan untuk Pemerintah
Syamsul menegaskan bahwa warga tidak ingin menunggu sampai ada korban baru pemerintah bergerak. “Warga butuh langkah nyata, bukan janji-janji. Kami sudah terlalu lama menunggu,” tuturnya.











