"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Daerah  

Atasi Kemacetan, Pemprov Gorontalo Mulai Studi Flyover Simpang Lima Telaga

Solusi Jangka Panjang untuk Mengatasi Kemacetan di Simpang Lima Telaga

Pemerintah Provinsi Gorontalo sedang mempertimbangkan langkah strategis untuk mengatasi kemacetan kronis yang terjadi di kawasan vital Simpang Lima Telaga, Kota Gorontalo. Salah satu solusi yang dipertimbangkan adalah pembangunan jembatan layang (flyover) sebagai bentuk penyelesaian permanen.

Langkah ini diambil setelah berbagai upaya rekayasa lalu lintas seperti pemasangan traffic light, perluasan bundaran, dan pemasangan pembatas jalan terbukti tidak efektif dalam mengurai kepadatan kendaraan yang melebihi 75 persen. Saat ini, kondisi tersebut sudah sangat mengganggu mobilitas ekonomi masyarakat, sehingga diperlukan solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Kajian Awal dengan Studi Kelayakan

Pemprov Gorontalo mulai memasuki tahap awal perencanaan, yaitu melakukan studi kelayakan (Feasibility Study) untuk pembangunan jembatan layang. Kajian ini penting sebelum melangkah ke tahap pembangunan fisik jembatan layang. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa proyek ini benar-benar menjadi solusi yang tepat dan efektif.

Kepala Dinas PUPR-PRKP Provinsi Gorontalo, Aries Ardianto, menjelaskan bahwa fokus pemerintah tahun ini adalah melakukan kajian menyeluruh. “Jadi dilakukan analisis kemudian dikaji apakah layak tidak hal itu dilakukan,” ujarnya.

Kegagalan Skema Konvensional

Banyak faktor teknis telah dibahas bersama Dinas Perhubungan Provinsi Gorontalo dan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kementerian Perhubungan Kelas II Gorontalo. Berbagai simulasi dan skema rekayasa lalu lintas ternyata sudah pernah dicoba di simpang tersebut. Namun, semua upaya tersebut belum menemukan solusi yang benar-benar efektif mengurai kemacetan.

Terkait pengaturan lampu lalu lintas, Aries menegaskan bahwa skema traffic light tidak bisa diterapkan secara optimal. “Jika dibuatkan skema traffic light di simpang lima tidak bisa dan tidak akan ketemu,” katanya. Hasil pembahasan menunjukkan tidak pernah ditemukan pola pengaturan lampu yang benar-benar efektif.

Kompleksitas Lalu Lintas di Simpang Lima

Permasalahan utama muncul karena posisi simpang yang mempertemukan lima arus lalu lintas. Ketika satu sisi jalan diberikan lampu hijau, sisi lainnya justru terdampak kemacetan parah. Formula pengaturan waktu dinilai sulit ditemukan, terutama untuk mengurai kepadatan di jam-jam sibuk.

Opsi pembesaran bundaran Simpang Lima juga pernah dikaji secara mendalam. Namun, hasil simulasi menunjukkan langkah tersebut belum tentu menyelesaikan persoalan secara fundamental. “Setelah disimulasi walaupun belum dibuatkan fisik bundaran diperbesar, tidak dapat juga,” ungkap Aries.

Ancaman terhadap Infrastruktur

Di area Telaga Park, terdapat sejumlah simpang tiga dengan jarak yang hanya beberapa puluh meter. Kondisi ini menyebabkan pergerakan kendaraan saling mempengaruhi dan menumpuk di pusat simpang. “Kalau dibiarkan begitu saja, sampai kapan?” tanya Aries secara retoris.

Selain persoalan kemacetan, dampak terhadap struktur jembatan di kawasan tersebut juga sangat dikhawatirkan. Antrean kendaraan dengan beban tonase tinggi yang berlangsung lama berpotensi memengaruhi kualitas jembatan. “Jembatan itu prinsipnya bukan didesain untuk beban tetap yang lama,” jelasnya.

Langkah Menuju Flyover

Studi Kelayakan menjadi pijakan awal sebelum keputusan pembangunan Flyover benar-benar diambil. “Walaupun secara kasat mata sudah layak dibuat,” ujar Aries. Aspek ukuran, model, hingga kebutuhan teknis lainnya harus ditentukan berdasarkan hasil kajian ilmiah.

Secara umum, Flyover yang direncanakan akan berbentuk jembatan layang melintasi simpang. Desain finalnya belum ditetapkan hingga kajian selesai dilaksanakan. Setelah studi kelayakan rampung, akan dibuat beberapa model desain untuk dipilih yang paling sesuai.

Tanggapan Warga dan Pengemudi Bentor

Rencana pembangunan Flyover ini mulai mendapat beragam respons positif dari masyarakat. Para pengemudi bentor yang setiap hari merasakan kepadatan lalu lintas di Jembatan Telaga merasa terbantu. Dua di antaranya adalah Sofyan Harun dan Karam Masalata, warga Desa Hulawa. Sebagai pengemudi bentor yang mangkal di Jembatan Telaga, mereka sangat memahami dinamika arus lalu lintas.

Awalnya mereka bingung dengan model flyover, namun setelah dijelaskan, mereka setuju. “Kalau untuk mengurangi kemacetan saya setuju,” ujar Sofyan. Kepadatan lalu lintas paling sering terjadi pada sore hari saat jam pulang kantor. Arus kendaraan dari Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo bertemu di jembatan tersebut.



Flyover dinilai bisa mengatasi masalah tanpa harus membuat pengendara mencari alternatif lain yang jauh. Kepadatan di Simpang Lima Telaga baru sangat terasa belakangan, seiring bertambahnya jumlah kendaraan. “Lebar dan panjang jalan sama, sementara tiap hari kendaraan bertambah,” pungkasnya.

Progres dan Dukungan Penuh

Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, menjelaskan bahwa studi kelayakan telah dimasukkan dalam APBD 2026. “Yang jelas data awalnya mendukung untuk itu,” ujar Gusnar Ismail. Laporan terakhir menunjukkan tingkat kepadatan di kawasan itu sudah di atas 75 persen. “Itu merupakan indikator bahwa tidak lama lagi akan terjadi macet total,” jelasnya.

Pembahasan teknis sudah dilakukan dengan Kementerian PU. “Mudah-mudahan bisa didukung terus dan ini menjadi sebuah kenyataan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *