Kehidupan dan Karier Sudjito di Wilayah Perbatasan
Sudjito, seorang pejabat PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), kini menjabat sebagai Kepala Cabang Nunukan sejak Maret 2025. Sebelumnya, ia pernah bertugas di berbagai daerah seperti Semarang, Batulicin, dan Ende. Jabatan ini merupakan tantangan besar baginya, karena lokasi kerjanya berada di wilayah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.
Awal Karier di Pelni
Sudjito lahir di Jakarta pada Mei 1971. Ia memulai karier di PT Pelni sejak tahun 1992, ketika usianya masih 21 tahun. Awalnya, ia bekerja di Kantor Pusat Pelni di Jakarta selama sekitar 25 tahun. Setelah itu, ia mendapat penugasan ke berbagai cabang di luar Jakarta, termasuk Semarang, Batulicin, dan Ende.
Pada Maret 2025, Sudjito dipercaya untuk memimpin Pelni Cabang Nunukan. Menurutnya, kepercayaan ini adalah amanah sekaligus tantangan besar. Salah satu tantangan terbesarnya adalah menjalankan target yang diberikan oleh pimpinan pusat. Namun, ia bersyukur bahwa semua target dapat tercapai.
Prinsip Kepemimpinan Sudjito
Sebagai seorang pemimpin, Sudjito menekankan tiga prinsip utama: disiplin, jujur, dan tanggung jawab. Ia percaya bahwa disiplin dalam bekerja, kejujuran saat menghadapi kendala, serta tanggung jawab atas setiap tugas yang diberikan adalah kunci sukses.
“Kalau ada kendala, sampaikan dengan jujur kepada atasan. Tanggung jawab atas pekerjaan itu penting untuk evaluasi bersama,” ujarnya. Baginya, kesuksesan tidak hanya diukur dari pencapaian target, tetapi juga dari proses pengambilan keputusan yang matang dengan mempertimbangkan risiko.
Pengorbanan Pribadi
Menjadi pimpinan di wilayah perbatasan bukanlah hal mudah. Selain tantangan pekerjaan, ada pula pengorbanan pribadi yang harus dijalani. Sudjito harus tinggal di Nunukan, sementara istri dan anak-anaknya menetap di Bogor, Jawa Barat. Jarak ribuan kilometer tidak membuatnya mengeluh. Ia memilih menikmati setiap proses kehidupan yang dijalani.
Ia memiliki tiga anak. Anak pertama telah menyelesaikan pendidikan S1 Manajemen Transportasi Laut di Universitas Trisakti dan kini telah menikah. Anak kedua menyelesaikan S1 jurusan Logistik, juga di Universitas Trisakti. Sementara anak ketiga tengah menempuh pendidikan sebagai Taruna di Semarang, dan kini memasuki semester empat.
Meski berkarier puluhan tahun di dunia pelayaran, Sudjito tidak pernah memaksakan anak-anaknya mengikuti jejaknya. Menurutnya, persaingan kerja saat ini sangat ketat, dan setiap anak harus menentukan jalannya sendiri sesuai kompetensi masing-masing.
Tidak Bisa Pulang Saat Lebaran
Menjadi pimpinan cabang di daerah berarti siap dengan berbagai konsekuensi, termasuk tidak bisa pulang kampung saat hari raya. Sudjito mengatakan bahwa ada penegasan dari pimpinan pusat agar pimpinan cabang tetap berada di lokasi tugas pada momen penting seperti Lebaran.
“Kalau sudah ditugaskan di daerah, kita harus siap dengan risikonya,” ujarnya. Di sela kesibukan, ia tetap menjaga kesehatan dengan berolahraga ringan seperti berjalan kaki. Ia pernah aktif bermain bulu tangkis dan futsal, namun kini lebih memilih aktivitas yang sesuai dengan kondisi fisiknya.
Kesimpulan
Bagi Sudjito, jabatan adalah amanah. Dengan berserah diri kepada Tuhan, ia terus memotivasi diri untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan dan masyarakat yang dilayani. Di tanah perbatasan, ia menjalani perannya sebagai pemimpin sekaligus kepala keluarga dari kejauhan, sebuah pengabdian yang dijalani dengan kesabaran dan keteguhan hati.











