"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Ermanto Usman, Aktivis Buruh JICT, Kritik Korupsi Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah

Kehidupan dan Kritik Ermanto Usman Sebelum Meninggal Dunia

Ermanto Usman (65) meninggal dunia di rumahnya di Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi. Sebelum kematian tersebut, ia sempat menyampaikan kritik terhadap dugaan kasus korupsi yang berkaitan dengan sektor pelabuhan. Peristiwa ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai penyebab kematian Ermanto.

Sebagai seorang pensiunan dari Jakarta International Container Terminal (JICT), Ermanto dikenal sebagai aktivis buruh yang sering menyuarakan isu-isu pekerja. Ia juga pernah menjabat sebagai Manager HRD JICT sekaligus Ketua Persatuan Pensiunan JICT. Dari pengalamannya, ia memahami berbagai tantangan yang dihadapi para pekerja di lapangan.

Kakak kandung Ermanto, Dalsaf Usman, mengungkapkan bahwa ayahnya pernah dua kali dipecat dari JICT karena dianggap terlalu vokal dalam menyuarakan aspirasi serikat buruh. Namun, keputusan pemecatan tersebut akhirnya dibatalkan oleh Menteri Perhubungan. Menurut Dalsaf, Ermanto dipecat karena mengkritik kebijakan yang tidak sesuai prosedur.

Sikap vokal Ermanto telah menjadi ciri khasnya sejak lama. Meskipun keluarga sudah menyarankan untuk menghentikan aktivitasnya, ia tetap melanjutkan. Dalsaf mengatakan bahwa jiwa patriotik Ermanto membuatnya terus berjuang meski ada risiko.

Ermanto juga kerap menyampaikan pandangannya melalui podcast, termasuk terkait perpanjangan kontrak JICT dengan perusahaan asal Hongkong, Hutchison Port Holdings (HPH). Anaknya, Fiandy A Putra (33), mengatakan bahwa ayahnya sangat antusias dalam berbicara di berbagai forum diskusi, termasuk podcast digital. Menurut Fiandy, aktivitas ayahnya memiliki risiko karena sering menyinggung kepentingan para pekerja di lapangan.

Pada 15 Desember 2025, Ermanto menjadi narasumber dalam program podcast berjudul “Pelindo Boneka PTHutchinson (Hongkong). Ada Pemerintah di Atas Pemerintah” di kanal YouTube Forum Keadilan TV. Dalam podcast tersebut, ia menyebutkan beberapa pihak terkait polemik kontrak pelabuhan. Salah satu pernyataannya adalah:

“20221 dan 2022 prosesnya 2021 kepemimpinan Arif Suhartono dan menteri BUMN Erick Thohir. Kakak erik sebagai brokernya, dia yang melobi pertama dirut pelindo, ada bukti kita sih.”

Pernyataan tersebut sempat ramai diperbincangkan publik. Anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka juga menyebut bahwa Ermanto sebelumnya sempat bersuara mengenai dugaan kasus korupsi di sektor pelabuhan.

Ermanto ditemukan tewas di rumahnya pada 2 Maret 2026. Sementara itu, istrinya, Pasmilawati (60), ditemukan dalam kondisi kritis. Rieke menduga kematian Ermanto tidak sekadar kasus perampokan biasa. Ia menilai indikasi kuat bahwa ini bukan pencurian biasa karena tidak ada barang yang hilang, kecuali kunci mobil, dompet, dan handphone.

Rieke meminta kepolisian melakukan penyelidikan lebih mendalam untuk mengungkap kasus tersebut. Ia menekankan perlunya kajian dan investigasi lebih luas serta penegakan hukum yang cepat. Ia juga menambahkan bahwa tidak hanya eksekutor lapangan yang harus dituntut, tetapi juga otak di balik indikasi pembunuhan ini.

Kendala dalam Penyelidikan

Menurut Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Andi Muhammad Iqbal, penyidik menghadapi sejumlah kendala dalam proses penyelidikan. Salah satunya adalah minimnya barang bukti di lokasi kejadian. Di rumah korban tidak ada CCTV, dan saksi sangat sedikit.

Polisi juga telah memeriksa kamera pengawas di sekitar lingkungan rumah korban. Namun hingga kini tidak ditemukan rekaman yang dapat membantu mengidentifikasi pelaku. Di lingkungan sekitar juga tidak ada yang menangkap gambar terduga pelaku. Semua CCTV hanya mengarah ke pekarangan rumah masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *