Kondisi Jalan Karangkobar-Batur yang Mengkhawatirkan
Jalan kabupaten ruas Karangkobar-Batur di Desa Ratamba, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, kini dalam kondisi sangat mengkhawatirkan. Pergerakan tanah yang terjadi sejak awal 2026 menyebabkan jalan nyaris putus total. Hal ini dipicu oleh lapisan batuan rapuh dan intensitas hujan tinggi yang berulang.
Kerusakan yang terjadi meliputi aspal yang ambles sepanjang 50 meter dan longsoran tebing sepanjang 300 meter. Akibatnya, jembatan menurun dan tiang listrik roboh. BPBD Banjarnegara telah menetapkan status darurat dan merekomendasikan relokasi jalan sebagai solusi jangka panjang, mengingat lokasi tersebut berada di zona merah.
Kondisi Terkini dan Dampak pada Warga
Foto-foto yang beredar menunjukkan betapa mencekamnya kondisi Desa Ratamba. Aspal jalan utama Karangkobar-Batur kini hanya menyisakan tepian jurang yang menganga akibat terjangan longsor dan gerakan tanah yang masif. Longsoran tanah di beberapa titik membuat kendaraan roda empat tidak bisa melintas.
Warga yang tinggal di sekitar lokasi menghadapi risiko serius terhadap keselamatan dan akses transportasi sehari-hari. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan tebing di bawah badan jalan ambles cukup dalam hingga membentuk jurang besar. Sebagian jalan terlihat berada tepat di tepi longsoran, dengan material tanah dan batuan jatuh hingga ke aliran sungai di bawahnya.
Pemantauan dan Tindakan Darurat
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Banjarnegara, Aji Piluroso, menjelaskan bahwa sejak awal 2026, pihaknya telah melakukan pemantauan rutin untuk menilai kerusakan dan potensi risiko. Monitoring pertama pada 12 Februari 2026 menunjukkan sejumlah kerusakan signifikan. Di salah satu ruas, badan jalan longsor sepanjang sekitar 50 meter sehingga hanya menyisakan satu meter untuk dilalui.
Jembatan di ruas tersebut juga mengalami penurunan pada bagian penopang atau abutment jembatan. Sementara itu, tebing jalan di dekat permukiman Dusun Kaliireng longsor sepanjang sekitar 300 meter. “Longsoran ini sebenarnya sudah terjadi sejak Januari 2025, namun terus berkembang akibat hujan deras yang berulang,” ujarnya.
Pemantauan kedua pada 2 Maret 2026 memperlihatkan kondisi semakin kritis. Jalan di area longsor terparah kini sudah sama sekali tidak bisa dilalui kendaraan roda empat, dan satu tiang listrik terbawa longsor. Saat itu PLN sedang memindahkan jaringan listrik untuk mencegah risiko lebih lanjut.
Monitoring ketiga pada 4 Maret 2026 menegaskan kondisi darurat, di mana jalan di lokasi longsor utama hanya menyisakan saluran air dan tidak dapat dilalui kendaraan apapun. Tiang listrik yang sudah dipindahkan tetap aman, meski kini jaraknya sekitar tujuh meter dari tebing longsor.
Jalur Alternatif dan Faktor Geologis
Bagi masyarakat dan pengendara yang ingin menuju Dieng dari Banjarnegara, tersedia jalan alternatif melalui Wanayasa dan Pejawaran. “Jalan alternatif bisa via Wanayasa, Pejawaran,” ujar Kalak BPBD saat dihubungi.
Secara geologi, Desa Ratamba terletak di perbukitan dengan kemiringan 20-35 derajat pada ketinggian sekitar 1.260 meter di atas permukaan laut. Tanah di daerah ini terdiri dari lapisan napal dan batulempung yang relatif rapuh, dengan sisipan pasir vulkanik, sehingga mudah tergerus saat hujan deras.
Meskipun tidak berada di zona sesar aktif, longsoran sebelumnya menunjukkan adanya pelurusan patahan di wilayah Kaliireng pada Januari 2025, yang terus aktif terutama saat hujan deras melanda. Risiko gerakan tanah juga diperparah oleh aliran Sungai Bojong yang belum ternormalisasi.
Warga memanfaatkan tepian sungai untuk pertanian palawija, sehingga debit air yang meningkat saat hujan berpotensi memicu longsor berulang. Wilayah ini termasuk dalam zona merah kerentanan gerakan tanah menurut Peta PVMBG Badan Geologi, menjadikannya salah satu lokasi yang harus diwaspadai secara serius.
Langkah Mitigasi Bencana
Dalam upaya mitigasi bencana, BPBD Banjarnegara bersama instansi terkait menyarankan langkah-langkah darurat dan jangka panjang. Pemasangan rambu peringatan di titik-titik kritis menjadi langkah awal untuk mengingatkan warga dan pengendara.
Penutupan rekahan tanah menggunakan bahan kedap air dilakukan untuk meminimalkan kerusakan lebih lanjut. Untuk penanganan jangka panjang, direkomendasikan relokasi jalan agar tidak lagi berada di zona rawan, atau penanganan langsung di lokasi dengan normalisasi Sungai Bojong sepanjang sekitar satu kilometer, pemasangan bronjong di tebing sungai, serta pembangunan talud penahan tanah di sisi lereng dekat badan jalan.











