"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"
Daerah  

Progres pembangunan KDMP Podorukun Kayong Utara mencapai 35 persen

Progres Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di Desa Podorukun

Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di sejumlah desa di Kabupaten Kayong Utara mulai menunjukkan progres yang cukup signifikan. Salah satu lokasi yang sedang dalam proses pembangunan adalah Desa Podorukun, Kecamatan Seponti. Saat ini, progres pembangunan mencapai sekitar 35 persen. Meskipun masih dalam tahap awal, kondisi fisik bangunan terlihat belum sepenuhnya selesai.

Ketua KDMP Podorukun, Hendra, mengungkapkan bahwa pembangunan masih berada pada tahap awal. Hal ini terlihat dari beberapa elemen struktur yang belum rampung, seperti atap, dinding, dan lantai. Menurutnya, saat ini bangunan hanya mencapai sekitar 35 persen dari total proyek yang direncanakan.

“Kalau dilihat dari fisik bangunan sekarang itu mungkin sekitar 35 persen, karena atap belum ada, dinding belum semuanya selesai, dan lantai juga belum dikerjakan,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Hendra menjelaskan bahwa keterlambatan pembangunan disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah distribusi material yang tidak lancar, serta kondisi cuaca yang tidak menentu. Awalnya, pembangunan ditargetkan rampung pada Januari 2026, namun harus ditunda.

“Kalau dilihat dari kaset mata mungkin karena keterlambatan bahan, mungkin juga karena kondisi cuaca yang tidak menentu. Kalau hujan terus, pekerja tukang tidak bisa bekerja. Sebenarnya penyelesaian ini di Januari itu udah harus selesai, tapi diundur,” jelas Hendra.

Meski demikian, ia menyebut pihaknya tidak mengetahui secara rinci kendala teknis karena pembangunan dilaksanakan oleh pihak TNI. Hal ini membuat pengawasan dan koordinasi antara pihak desa dan pelaksana menjadi lebih sulit.

Di sisi lain, Hendra menilai Desa Podorukun memiliki potensi besar untuk pengembangan koperasi, khususnya di sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan. Ia berencana mengembangkan pertanian modern seperti hidroponik serta menggandeng kelompok tani untuk mendukung keberlangsungan koperasi.

Namun, KDMP masih menghadapi kendala, terutama dalam hal keanggotaan. Minimnya keyakinan masyarakat untuk bergabung sebagai anggota menjadi salah satu tantangan utama. Menurutnya, hal ini dipengaruhi oleh belum jelasnya posisi KDMP di tengah masyarakat.

“Masalah anggota, karena anggota masih belum yakin, soalnya Kopdes Merah Putih ini ambigu bang. Dia dibilang kayak bermitra dengan desa. Juga enggak tertulis secara langsung ataupun menjadi salah satu instansi desa ataupun menjadi pihak ketiga di desa pun juga kami belum jelas,” kata Hendra.

Ia juga menambahkan, sejauh yang dipahami saat ini, KDMP merupakan tanggung jawab desa sejak awal pembentukan hingga operasionalnya. Bahkan, apabila mengalami kegagalan, tanggung jawab tersebut tetap berada di pihak desa.

Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa koperasi belum mendapatkan bimbingan teknis yang jelas dari pihak terkait, meskipun sudah didorong untuk segera melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT).

Hendra berharap, ke depan Kopdes Merah Putih dapat menjadi peluang ekonomi baru sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa. Menurutnya, hal yang paling penting saat ini adalah membangun kesadaran masyarakat dalam mengelola potensi dan aset desa secara berkelanjutan.

“kami berharap Kopdes menjadi salah satu peluang dan lapangan pekerjaan yang akan selalu digunakan oleh masyarakat. Karena fondasi utamanya adalah kita membenahi dulu mindset masyarakat dalam pengelolaan uang dan desa kita lebih menimbulkan kesadarannya bahwa aset desa itu bukan tentang bagaimana mendapat keuntungan dari sebuah proyek tapi kita menciptakan sebuah kalangan uang dari lahan itu sendiri,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *