"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Kunjungi Banjarmasin, Ketua Umum ‘Aisyiyah Ajak Hemat Energi Hadapi Krisis Global

Pentingnya Kesadaran Hemat Energi dalam Menghadapi Krisis Global

Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menekankan pentingnya langkah hemat energi dan efisiensi dalam menghadapi potensi dampak krisis global yang dapat berimbas hingga ke Indonesia. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan Gerakan Perempuan Mengaji yang digelar ‘Aisyiyah Kalimantan Selatan di Masjid Al Jihad, Banjarmasin, Minggu (29/3/2026), yang diikuti sekitar 1.500 peserta.

Dalam arahannya, Salmah mengingatkan bahwa dinamika global yang melibatkan sejumlah negara seperti Israel, Amerika Serikat, dan Iran berpotensi memicu krisis energi, termasuk gas dan minyak. Menurutnya, kondisi tersebut tidak bisa dipandang jauh dari kehidupan masyarakat di daerah, termasuk bagi organisasi besar seperti ‘Aisyiyah yang memiliki berbagai amal usaha.

“Kalau sampai ada krisis energi, krisis gas, krisis minyak, itu pasti akan berdampak kepada amal usaha yang kita punya,” ujarnya. Ia menjelaskan, ‘Aisyiyah saat ini mengelola berbagai lembaga di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, mulai dari perguruan tinggi, sekitar 22 ribu taman kanak-kanak, rumah sakit, hingga panti asuhan. Karena itu, dampak krisis energi dinilai berpotensi memengaruhi operasional layanan tersebut jika tidak diantisipasi sejak dini.

Salmah pun mengimbau seluruh kader dan masyarakat untuk mulai menerapkan pola hidup hemat energi serta efisiensi dalam berbagai bidang sebagai langkah mitigasi. “Harus hemat energi. Kita harus melakukan penghematan dalam segala bidang, supaya kita tidak terlalu terdampak kalau nanti benar-benar ada krisis,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan organisasi dalam membaca perkembangan global dan menerjemahkannya ke dalam langkah-langkah konkret di tingkat daerah. Menurutnya, kepemimpinan di wilayah harus mampu mengarahkan seluruh jajaran agar memiliki satu pemahaman dan visi dalam menghadapi berbagai kemungkinan dampak kebijakan maupun kondisi global.

Di sisi lain, Salmah turut mengapresiasi tingginya partisipasi peserta dalam kegiatan tersebut. Ia menyebut, kehadiran sekitar 1.500 perempuan, termasuk yang datang dari daerah jauh dengan menempuh perjalanan hingga lima sampai enam jam menggunakan feri, menjadi bukti kuatnya konsolidasi organisasi. “Ada yang naik feri lima sampai enam jam. Itu membutuhkan pengorbanan, tapi mereka melaksanakannya dengan ikhlas,” katanya.

Ia menilai, kegiatan Gerakan Perempuan Mengaji menjadi salah satu contoh penguatan dakwah yang berjalan di tingkat akar rumput. Namun, ia mengingatkan bahwa penguatan dakwah juga perlu diimbangi dengan layanan nyata kepada masyarakat, termasuk melalui pembentukan pos bantuan hukum. Saat ini, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Kalsel disebut masih belum memiliki pos bantuan hukum yang dapat memberikan pendampingan kepada perempuan, lansia, dan kelompok difabel.

“Tahun ini penekanan kita adalah layanan berbasis hukum untuk mewujudkan perdamaian. Karena itu, pos bantuan hukum perlu segera dihadirkan,” ujarnya. Kegiatan ini sendiri juga menjadi bagian dari momentum syawalan dan halal bihalal, sekaligus penguatan gerakan dakwah berbasis nilai-nilai keagamaan.

Salmah menegaskan bahwa gerakan ‘Aisyiyah tidak hanya berfokus pada kegiatan sosial, tetapi juga harus dilandasi nilai-nilai spiritual, seperti keimanan dan ketakwaan, yang diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama. Melalui berbagai amal usaha yang dimiliki, ia berharap organisasi perempuan Persyarikatan Muhammadiyah ini dapat terus berkontribusi dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat, sekaligus tetap bersinergi dengan pemerintah dalam pembangunan.

“Selama ini kita selalu bersama pemerintah, membantu menyelesaikan persoalan, tetapi juga tetap memberikan masukan dengan cara yang baik,” pungkasnya.

Kepemimpinan Daerah yang Berkomitmen

Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Kalsel, Yulia Qamariyanti menegaskan, seluruh jajaran di daerah berkomitmen menjalankan arahan dari pimpinan pusat. “Apa yang menjadi arahan, pedoman, dan sudah diprogramkan dalam program kerja, itu harus dilaksanakan sampai tingkat bawah, sampai ranting,” ujarnya.

Menurut Yulia, kegiatan Gerakan Perempuan Mengaji merupakan bagian dari pelaksanaan program lima tahunan yang telah dirumuskan dalam musyawarah wilayah ‘Aisyiyah Kalsel. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat silaturahmi antaranggota dari berbagai tingkatan, mulai dari pimpinan wilayah, daerah, cabang, hingga ranting.

“Ini ajang silaturahmi berkelanjutan. Kita bisa bertukar informasi, pengetahuan, pengalaman, dan berbagi praktik baik dari amal usaha yang dijalankan di daerah masing-masing,” katanya. Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga mencerminkan nilai keikhlasan yang menjadi dasar gerakan ‘Aisyiyah.

Menurutnya, sebagian besar peserta hadir dengan biaya sendiri, termasuk untuk konsumsi selama kegiatan berlangsung. “Ibu-ibu ini bayar konsumsi sendiri. Itu bagian dari keikhlasan dan kesukarelaan. Kalau tidak ikhlas, tentu tidak akan datang,” ujarnya.

Selain sebagai forum keagamaan, kegiatan ini juga memberi kesempatan bagi peserta untuk saling mengenal daerah lain di Kalsel. “Ada yang sebelumnya belum pernah ke daerah tertentu, jadi bisa sekalian mengenal. Istilahnya berputar se-Kalimantan Selatan,” tambahnya.

Kegiatan ini juga menjadi momentum syawalan dan halal bihalal, sekaligus penguatan gerakan dakwah berbasis nilai-nilai keagamaan yang dijalankan ‘Aisyiyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *