Penyidik KPK Menemukan Bupati yang Menghilang
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sempat kesulitan menemukan keberadaan Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama setelah penyidik KPK menekan ajudan bupati, Dwi Yoga Ambal.
Awalnya, saat ditanya oleh penyidik KPK, Dwi Yoga Ambal mengaku tidak mengetahui posisi Bupati Gatut Sunu. Namun, setelah tekanan terus diberikan, Dwi Yoga akhirnya memberitahu lokasi persembunyiannya. Informasi ini didapatkan dari sumber internal pendapa. Sumber tersebut menyebutkan bahwa dua mobil KPK masuk ke pendapa membawa Kabag Umum, Yulius Rama Isworo.
Di area pendapa, tim KPK menemukan ajudan bupati, Dwi Yoga Ambal. “Orang KPK sempat menanyakan keberadaan Pak Bupati, tapi ajudan mengaku tidak tahu,” ujar W, sumber tersebut pada Sabtu (11/4/2026).
Personel KPK terus menekan Dwi Yoga hingga membuatnya mau mengungkap kebenaran tentang keberadaan Bupati Gatut Sunu. Menurut W, bupati saat itu bersembunyi di dalam mobil yang ada di garasi. Sesuai petunjuk itu, personel KPK menemukan Gatut Sunu. “Jadi 3 orang, bupati, Yulius sama ajudan. Lalu bupati diminta menghubungi Sekda,” tutur W.
Suasana Tegang di Pendapa
Suasana Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK di Pendapa Kabupaten Tulungagung, Jumat (10/4/2026) sore berlangsung tegang. Personel KPK sempat menyita puluhan telepon genggam milik regu jaga, bagian rumah tangga, dan orang-orang yang ada di pendapa.
Menurut informasi dari internal pendapa, ada tiga mobil yang datang sekitar pukul 15.00 WIB. Dua mobil langsung masuk ke area pendapa, satu mobil berhenti di gerbang pendapa, memblokir lalu lintas. Gerbang pendapa digembok sehingga tidak ada yang masuk maupun keluar.
“KPK minta satu orang di penjagaan untuk mengantar ke dalam. Mungkin untuk menunjukkan seluk beluk di pendapa,” ujar seorang sumber. KPK kemudian menyita semua ponsel personal yang ada di pendapa.
Lima belas ponsel milik regu jaga siang disita, lalu 15 orang regu jaga malam yang baru datang juga disita. Ponsel milik personel rumah tangga pendapa juga disita. “Saya datang ke Pendapa ternyata di dalam sudah ada KPK. Langsung HP disita, dimasukkan dalam plastik klip,” sambung sumber tadi.
Sebanyak 40 ponsel ikut dibawa ke Markas Polres Tulungagung, lokasi KPK memeriksa para pejabat. Seluruh ponsel diambil personel Satpol PP pada Sabtu (11/4/2026) pagi di Polres Tulungagung, lalu dibawa kembali ke pendapa.
Para Pejabat Datang ke Polres Tulungagung
Sejumlah pejabat Pemkab Tulungagung mendatangi Polres Tulungagung, Jumat (10/4/2026) malam. Informasi dari internal Polres Tulungagung, para pejabat ini mendatangi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Salah satu yang datang dengan mobil personel KPK adalah Yulius Rama Isworo, Kabag Umum. Kabag Umum ini turun disusul personel KPK, lalu menurunkan kardus-kardus berisi berkas.
Sebelumnya, Dwi Yoga, ajudan bupati juga datang dengan minibus bersama personel KPK. Mereka kemudian menurunkan koper yang diduga berisi dokumen. Sejumlah pejabat datang sendiri, seperti Kabag Kesra Makrus Mannan, Kabag Pemerintahan Arif Effendi, Kepala Satpol PP Hartono, Direktur RSUD Iskak Zuhrotul Aini, dan Kepala BPKAD Dwi Hari Subagyo.
Sementara seorang perwira di Polres Tulungagung mengatakan, Plt Sekda Soeroto dan Kepala Bakesbangpol Agus Prijanto Utomo sudah lebih dulu datang. “Memang ada aktivitas KPK,” ujar seorang sumber.
Daftar Orang yang Dibawa ke Jakarta
Beberapa orang yang terlibat dalam kasus ini dibawa ke Jakarta oleh KPK. Berikut daftar 12 orang yang dibawa:
- Kabag Pemerintahan: Arif Effendi.
- Adik Bupati: Jatmiko Dwijo Seputro
- Staf Bagian Umum: Oki
- Kabag Kesra: Makrus Mannan
- Kepala Dinas Pertanian: Suyanto,
- Kepala Satpol PP: Hartono
- Kabag Umum: Yulius Rama Isworo
- Kepala Dinas PUPR: Erwin Novianto
- Kabag Prokopim: Aris Wahyudiono
- Kepala Bakesbangpol: Agus Prijanto Utomo
- Ajudan Bupati: Yoga Dwi Ambal
- Kepala BPKAD: Dwi Hari Subagyo











