"Fokus Banten: Info Lokal, Wawasan Global"

Banjir Sumatera, Warganet Rindu Sosok Sutopo



Sosok almarhum Sutopo Purwo Nugroho, mantan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Perbincangan ini muncul seiring dengan pemberitaan mengenai Banjir Sumatera yang menyebabkan akses jalan terputus total dan membuat sejumlah wilayah masih terisolasi. Di tengah upaya penanganan bencana yang sedang berlangsung, banyak warganet merasa kehilangan figur informan kebencanaan yang cepat, akurat, dan penuh empati seperti Sutopo.

Beberapa pengguna X (dulunya Twitter) membagikan tangkap layar unggahan lama Sutopo sebagai bentuk rasa rindu. Salah satu pengguna, @SB***, menulis:


We miss him
.”

Pernyataan ini merujuk pada cara komunikasi Sutopo dalam penanganan bencana ketika ia menjadi juru bicara BNPB.

Akun lain, @ohfa**, juga memberi pendapat senada. Ia menulis:

“Asli, pak Topo public relation-nya bagus banget pas ada bencana gini langsung ngasih statement yang menenangkan,” tulisnya.

Kerinduan warganet ini muncul karena Sutopo dikenal sebagai pribadi yang bertanggung jawab dan selalu sigap dalam memberikan informasi terkait bencana, meskipun kondisi kesehatannya sendiri tidak baik. Bahkan, saat divonis mengidap kanker paru-paru stadium 4B pada Januari 2018, ia tetap menunaikan tugasnya sebagai Kepala Pusat Data dan Informasi dan Humas BNPB.

Sosok Sutopo, informan bencana yang selalu siaga

Sutopo Purwo Nugroho, yang akrab disapa Pak Topo, meninggal dunia pada Minggu, 7 Juli 2019, di Guangzhou, China, pukul 02.20 waktu setempat. Ia wafat saat menjalani perawatan untuk kanker paru yang telah menyebar ke banyak tulang dan organ tubuh. Meski demikian, dedikasinya selama hidup menjadi standar tinggi dalam penyampaian informasi kebencanaan.

Hal ini bisa dilihat dari jumlah cuitannya di Twitter yang cukup banyak. Kebanyakan berisi informasi kebencanaan. Dalam laporan 2019, setidaknya Sutopo telah membuat unggahan sebanyak 13.700 dan memiliki pengikut sebanyak 235.000. Angka ini menjelaskan kenapa setiap kali ada bencana, termasuk banjir Sumatera baru-baru ini, warganet langsung membandingkan kecepatan dan kejelasan informasi sekarang dengan era ketika akun @Sutopo_PN aktif hampir 24 jam.

Kecepatan dan akurasi data di tengah rasa sakit

Kinerja Sutopo ditandai dengan kecepatan dan kelengkapan informasi yang ia berikan. Ia menyampaikan berita bencana melalui media sosial, terutama Twitter, dan pesan instan di aplikasi bertukar pesan. Sutopo belajar dari cara kerja wartawan agar bisa mengetik dan menyebarkan informasi dengan cepat. Ia bahkan sempat membagikan informasi melalui grup WhatsApp karena karakter di Twitter yang terbatas.

Kegigihan ini bahkan mengundang minat media luar negeri. Misalnya, The New York Times pernah mengulas profilnya dalam artikel berjudul He Helped Indonesia Through a ‘Year of Disasters, While Facing His Own. Artikel tersebut mengapresiasi kecepatan Sutopo dalam memperbarui informasi agar media dan masyarakat segera mengetahui perkembangan kondisi di lapangan.

Atas dedikasinya, Sutopo juga menerima penghargaan, salah satunya dari media The Straits Times. Dalam menjalankan tugasnya, Sutopo sering kali berhadapan langsung dengan rasa sakit dari kanker yang diidapnya. Bahkan, tak jarang saat konferensi pers ia membekali dirinya dengan obat penahan rasa sakit.

Ia pernah menjelaskan bahwa ketika ia membagi informasi kebencanaan, adrenalinnya keluar dan kadang membuatnya tidak merasakan sakit. Untuk mengatasi nyeri pada tulang akibat penyebaran kanker, ia menggunakan koyo yang mengandung morfin.

“Justru mungkin pada saat seperti itu (membagi informasi kebencanaan), adrenalin saya keluar. Kadang saya gak merasakan sakit,” kata Sutopo pada 2018 silam.

“Dan saya tertolong untuk rasa nyeri di tulang itu, dengan memasang koyo yang di dalamnya morfin. Saat ditempel, khasiatnya itu bisa sampai tiga hari,” imbuhnya.

Ingin selalu bermanfaat

Sutopo sendiri adalah sosok yang memegang teguh prinsip selalu ingin bermanfaat bagi orang lain. “Makna hidup itu bukan ditentukan panjang pendeknya usia, tapi seberapa besarnya kita bermanfaat buat sesama,” kata Sutopo kepada pada 2018 lalu. Ia sadar bahwa masyarakat membutuhkan dirinya. Ia pun memilih untuk bekerja sebagai wujud pengabdian.

Sutopo juga sempat menceritakan bahwa dirinya pernah menolak jabatan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB karena merasa posisi humas jauh dari bayangannya sebagai peneliti. Tetapi ia dipaksa oleh Kepala BNPB saat itu, Syamsul Maarif, yang percaya pada kemampuannya berinteraksi dengan media dan publik.

Terbukti, dengan kemampuannya, meski Sutopo telah wafat, masih banyak orang mengenang kinerja dan empatinya dalam menyampaikan informasi kebencanaan. Kerja keras Sutopo Purwo Nugroho, yang berjuang melawan kanker sambil mengabarkan bencana, menjadikan dirinya figur yang sulit digantikan.

Di tengah penanganan bencana seperti Banjir Sumatera, kerinduan akan sosok yang memberikan informasi dengan detail, cepat, dan apa adanya, tanpa ditutup-tutupi, akan terus dirasakan oleh masyarakat dan media. Doa terbaik untuk Pak Topo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *