Kondisi Plaza Pragolo yang Mengkhawatirkan
Plaza Pragolo, yang berlokasi di Jalan Pantura Pati-Kudus Kilometer 4, Margorejo, kini menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Tempat yang dulunya digadang-gadang sebagai pusat keramaian dan UMKM di Kabupaten Pati ini kini tampak lengang, meninggalkan hanya segelintir pedagang yang masih mencoba bertahan di tengah sepinya pembeli.
Plaza Pragolo diresmikan pada 2016 dengan nama “Pasar Pragolo”. Lalu, namanya diganti menjadi Plaza Pragolo pada Juni 2018. Perubahan nama ini dilakukan bertepatan dengan peresmian bioskop New Star Cineplex (NSC) di lantai dua gedung tersebut.
Pantauan terbaru menunjukkan bahwa gedung yang menyandang slogan “Pusat Produk Unggulan Kabupaten Pati” ini terlihat sangat sepi. Beberapa pintu akses utama yang terbuat dari kaca tebal tampak terkunci rapat menggunakan rantai besi dan gembok, menunjukkan bahwa banyak area yang sudah tidak lagi terbuka untuk umum.
Lorong-lorong di dalam gedung tampak sunyi dengan pencahayaan seadanya. Sebagian besar toko terlihat tertutup, dan hanya ada sedikit gerai yang menyisakan stok barang di dalamnya tanpa penjagaan. Ruangan yang ditandai dengan papan “Produk Kerajinan” tampak kosong dari barang-barang seni atau hasil kerajinan daerah.
Alih-alih menjadi ruang pameran, area tersebut kini justru digunakan untuk menyimpan tumpukan kardus dan galon air minum kemasan dalam jumlah besar. Dalam area pujasera atau lapak kuliner di sisi barat, deretan meja dan kursi tertata rapi, namun tidak terlihat adanya aktivitas pembeli. Dua pintu akses masuk juga ditutup dan terkunci.
Sementara, di deretan lapak kuliner di sisi timur, tampak hanya satu pedagang yang berjualan. Pedagang tersebut adalah Ristiyati, warga Desa Dadirejo, Kecamatan Margorejo. Dia nekat bertahan meski jumlah pengunjung menurun drastis. Ia pun kini hanya bergantung pada pegawai kantor di jam-jam tertentu.
Ristiyati telah berjualan makanan di Plaza Pragolo sejak tempat ini pertama kali berdiri. Dia mengungkapkan, masa kejayaan tempat tersebut berakhir sejak pandemi COVID-19 melanda. Hingga hari ini, kondisi kunjungan pembeli belum juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
“Dulu tempat ini ramai sekali. Mulai sepi sejak ada Corona. Terus berlanjut sampai sekarang, belum pulih lagi,” ujar Ristiyati.
Penurunan omzet yang dialaminya terbilang sangat drastis. Jika pada masa awal pembukaan, ia mampu mengantongi pendapatan kotor hingga Rp1,5 juta per hari, kini untuk mencapai angka Rp400 ribu saja, ia mengaku sangat kesulitan. Minimnya pembeli membuat pendapatannya menurun hingga lebih dari separuh.
Ristiyati menyebutkan, saat ini, pembeli didominasi oleh pegawai kantor Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) yang datang untuk sarapan atau makan siang di jam istirahat. “Jadi seperti kantin pegawai,” kata dia.
Sebagai informasi, Kantor Disdagperin Pati memang lokasinya tepat di sebelah timur Plaza Pragolo. Menurutnya, masyarakat umum atau pengunjung sudah jarang yang sengaja datang untuk berwisata kuliner atau mencari oleh-oleh khas Pati.
Ironisnya, keberadaan bioskop yang masih cukup ramai pengunjung di gedung yang sama ternyata tidak memberikan dampak signifikan bagi pelaku usaha kuliner di sana. “Bioskop ramai, tapi nggak berpengaruh di warung. Mereka nggak jajan ke sini. Anak-anak sekolah yang nonton bioskop biasanya bawa bekal sendiri,” tambahnya.
Terkadang, ada pula ajang yang digelar oleh berbagai komunitas. Saat ada acara, Plaza Pragolo jadi ramai. Namun, sayangnya hal itu juga tidak berdampak pada UMKM setempat. “Kalau ada acara pun nggak pengaruh. Kalau ada event, pengunjungnya juga nggak jajan di sini. Mereka biasanya bawa lapak kuliner sendiri. Tapi sudah lama sekali tidak ada event,” ucap dia.
Kondisi ini diperparah dengan banyaknya lapak dan toko suvenir yang sudah tutup permanen. Di deretannya sendiri, di lapak kuliner sisi timur, Ristiyati menjadi satu-satunya pedagang yang masih membuka warung.
Secara total, ia menyebutkan hanya tersisa sekitar empat lapak kuliner yang masih beroperasi di Plaza Pragolo. Mereka membayar retribusi sebesar Rp 60 ribu per bulan. “Dulu gratis. Baru sekitar setahun belakangan ditarik retribusi,” kata dia.
Bagi Ristiyati, satu-satunya alasan dirinya masih mampu bertahan hingga saat ini adalah adanya pelanggan tetap dari Disdagperin. Namun, ia tidak menampik bahwa terkadang hasil jualannya bahkan tidak mencukupi untuk modal belanja stok barang atau kulakan.
Ia berharap pemerintah daerah dapat melakukan langkah nyata yang lebih efektif untuk menghidupkan kembali Plaza Pragolo. “Ya semoga bisa seperti dulu lagi. Ramai lagi,” pungkasnya penuh harap.
Singgih Tri, pengunjung asal Tambakromo, Pati, tampak menikmati hidangan nasi pecel dengan lauk tempe mendoan di warung milik Ristiyati. Dia memilih makan siang di sini karena hanya warung inilah satu-satunya yang buka. “Saya habis nonton bioskop. Filmnya selesai pas jam makan siang. Cari-cari tempat makan, kok, di seluruh gedung ini cuma satu warung yang buka. Jadi saya makan di sini,” kata Singgih.
Dia mengatakan, sudah cukup lama dia tidak mengunjungi ke Plaza Pragolo. Seingatnya, terakhir kali dia berkunjung, masih cukup banyak penjual makanan yang buka. “Biasanya saya makan bakmi di lapak kuliner sebelah barat. Tapi tadi saya ke sana sudah tutup semua. Sekarang jadi memprihatinkan begini kondisinya. Mungkin karena jarang ada event dan lokasinya juga agak jauh dari pusat kota. Orang yang rumahnya jauh seperti saya ini, biasanya cuma datang untuk nonton bioskop atau kalau ada event,” papar Singgih.











