Pantai Batu Dinding, Tujuan Wisata yang Tetap Menarik di Libur Lebaran
Pada hari Selasa (24/3/2026) menjelang siang, suasana di Pantai Batu Dinding, Belinyu, mulai ramai. Sekitar pukul 11.00 WIB, area masuk pantai dipenuhi oleh dua bus pariwisata yang terparkir berjejer, disusul beberapa mobil pribadi. Rombongan pengunjung tampak baru saja tiba, sebagian besar berasal dari Bangka Selatan.
Di bawah pepohonan yang rindang, para pengunjung langsung menggelar tikar dan membuka bekal makanan. Obrolan mulai terdengar, bercampur dengan logat khas Bangka Selatan yang terdengar akrab di telinga. Di kejauhan, suara ombak memecah batu besar yang menjadi ciri khas pantai ini.
Setelah makan, rombongan mulai berpencar. Beberapa memilih duduk santai di sekitar teras vila tua, sementara yang lain turun ke pesisir atau naik ke atas batu besar untuk sekadar berbaring menikmati angin pantai yang sejuk. Beberapa pengunjung sibuk mengabadikan momen, sementara yang lain memilih diam, menatap laut biru dengan kapal-kapal nelayan yang masih beroperasi.
Topik (45), salah satu pengunjung dari Bangka Selatan, mengaku perjalanan yang ditempuh tidaklah dekat. Ia bersama rombongannya harus menempuh waktu sekitar tiga jam untuk sampai ke lokasi. “Jauh sih, tapi enak di sini. Anginnya sejuk,” ujarnya singkat. Ia menyebut kunjungan ke pantai ini memang sudah direncanakan sejak awal sebagai bagian dari libur Lebaran. Bahkan, ini bukan kali pertama dirinya datang ke Batu Dinding.
Hal serupa juga disampaikan Iskandar (45), yang datang bersama rombongan dari Desa Pergam, Bangka Selatan. Ia mengatakan perjalanan dimulai sejak pagi hari dan memakan waktu hingga hampir empat jam. Meski sempat mengeluhkan akses jalan yang sempit saat memasuki kawasan pantai, menurutnya hal tersebut tidak mengurangi ketertarikan pengunjung. “Kalau tempatnya sih bagus, bersih. Pemandangannya juga enak,” katanya.
Bagi sebagian pengunjung, Pantai Batu Dinding bukan sekadar tempat untuk bermain air. Keberadaan batu-batu besar yang menjulang justru menjadi daya tarik tersendiri. Dari atasnya, pengunjung bisa menikmati pemandangan laut dari ketinggian, ditemani angin yang terus berhembus pelan.
Mistiar (47), sopir bus yang kerap membawa rombongan wisata ke kawasan Belinyu, mengatakan bahwa pantai masih menjadi tujuan utama wisata saat libur Lebaran, meski jaraknya cukup jauh dari wilayah Bangka Selatan. “Memang dari rombongan maunya ke sini. Namanya juga libur Lebaran, orang ingin ke pantai,” ujarnya.
Di sisi lain, pengelolaan kawasan wisata ini masih terbilang sederhana. Di pintu masuk, pengunjung dikenakan tarif kebersihan dengan variasi harga, mulai dari Rp5.000 untuk motor, Rp10.000 untuk mobil kecil, hingga Rp70.000 untuk bus besar.
Rena (51), penjaga sekaligus pemilik lahan yang merupakan warisan keluarga, mengatakan bahwa kunjungan saat libur Lebaran memang lebih ramai dibanding hari biasa, meski tidak seramai tahun sebelumnya. “Kalau hari biasa sepi, apalagi waktu puasa hampir tidak ada pengunjung,” ujarnya. Ia menambahkan kawasan tersebut masih memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Namun hingga saat ini, fasilitas yang ada masih terbatas, termasuk vila yang dulunya sempat disewakan, namun kini tidak lagi digunakan karena kondisi bangunan yang sudah mulai rapuh.
Meski begitu, harapan untuk pengembangan ke depan tetap ada. “Harapannya bisa lebih berkembang, lebih baik lagi dari sekarang,” katanya.
Terlepas dari keterbatasan yang ada, Pantai Batu Dinding tetap menjadi pilihan bagi sebagian orang. Jarak yang jauh dan perjalanan panjang seolah tidak menjadi penghalang, selama ada tempat untuk beristirahat, menikmati angin, dan sekadar melepas penat. Bagi mereka yang datang, perjalanan itu mungkin melelahkan. Namun saat duduk di bawah pohon, mendengar ombak, dan merasakan angin laut, lelah itu perlahan hilang, terbayar dengan suasana yang sederhana, tapi cukup untuk dinikmati.











